"Bismillahirrohmanirrohim"

Kamis, 24 April 2014

menulis tidak semudah berbicara

menulis..
kata orang mudah
tapi bagiku susah

berbicara..
orang sudah terbiasa
bagiku juga pasti

menulis..
aku jago menulis
tapi menulis kata-kata alay pada media sosial

ternyata, menulis tidak semudah berbicara

Rabu, 23 April 2014

GALAU TAK BERUJUNG

terdiam tanpa kata
berkata tanpa diam
tanpa diam dan kata
aku galau...

ku tulis kata dalam diam
diam diam lalu berkata
aku galau...

ketika diam tanpa suara
ketika kata tanpa bicara
ketika bersuara lalu bicara
aku galau...

Selasa, 26 Juni 2012

KELAMNYA MENTARI ESOK


Mentari esok hari
Akankah ku temui luka
Seperti perih yang kau torehkan dalam kelamnya malam

Lentera cinta kini telah padam
Kasih larut dalam dendam

Mentari esok hari
tak lagi menjadi saksi
Kisah kasih hanya terpatri dalam mimpi

Minggu, 08 Januari 2012

Membaca Efektif dengan Formula 5 S


1. Pandai SEDOT materi bacaan
Mari sama-sama kita dokrak mitos membaca selama ini! Membaca tidak harus pelan-pelan, justru dengan "menyedot" materi bacaan atau buku, kita sebenarnya telah melakukan survei bacaan dan ilmunya tetap "masuk" kedalam otak.

2. SARING mana yang penting
Menyaring isi buku membuat anda melakukan survei ulang bacaan dengan beban yang lebih ringan. karena yang dicarinya hanya kata kuncinya saja.

3. SELEKSI mana yang harus diingat
Pintar menyeleksi atau menggunting materi bacaan akan mendorong perkembangan sudut pandang anda dan memudahkannya untuk menyeleksi bacaan pendukung.

4. SERAP sampai melekat di otak
Mengembangkan pendekatan bertanya akan membuat anda lebih cepat paham, dan ingat.

5. SARIKAN  supaya tidak lupa
Jadikan kata kunci dan pemetaan sebagai jangkar ke otk. supaya mudah memanggil kembali "data" yang sudah dipelajari saat diinginkan.



INGAT:
Formula 5 S memberikan pola belajar bagimu . Dan, belajar artinya membuat formula ini jadi milikmu!!!!
"Diktat perkuliahan"

Sabtu, 07 Januari 2012

Cinta Bela


KRIIIIIINGGG...!! KRIIINGGG..!! KRIIINGGGG..!!!
Tangan kiri Bela mencari-cari handphone-nya di antara tumpukan bantal yang ada di sampingnya, ia mematikan alarm yang sudah di aturnya semalam, tanpa melihat angka yang tertera didalam layar.
“Bel, belaa, bellaaa...bangun..” teriak mama dari luar kamar sambil mengetuk- ngetuk pintu kamar bela yang semakin lama semakin keras.
“iya mah, bela dah bangun kok” sahut bela sambil mengucek-ngucek matanya.
Ketika mata kecil bela terbuka lebar, matanya langsung menuju kearah jam dinding yang berada di depannya, ia tergaget karena jam dinding sudah menunjukkan jam setengah 7 pagi.
“Ya ampuuunnn.. telat lg” teriak bela sambil berlari menuju kamar mandi.
Selasai mandi dan berpakaian rapih putih abu-abu, ia bergegas kedapur untuk menikmati sarapan yang sudah di siapkan mama.
“Jangan buru-buru makannya!” saran mama
“Mama sih ga bangunin aku dari tadi, jadinya aku telat nih, jadi ga bisa santai makannya” sahut bela pada mamanya.
“Lho lho lho, kok jadi mama yang disalahin?? Perasaan mama dah bangunin kamu deh, handphone kamu juga sudah bunyi dari tadi, sampe-sampe mama pusing dengernya.” Jelas mama.
“he he he.. masa??” bela sambil senyum-senyum malu.
“Makanya nak, jangan suka tidur tengah malam, jangan suka bergadang, kalau mau menulis yah jangan sampe lupa waktu tidur..” nasihat mama.
“iya mah iya, he he he.. ya udah deh aku berangkat dulu yah mah, telat banget nih, assalamu’alaikum” sambil mencium tangan dan langsung bergegas pergi.
Sesampainya di depan gerbang sekolah bela bergegas lari sekencang-kencangnya karena pak satpam yang menjaga sekolah sudah bersiap siaga menutup pintu gerbang. Ia pun segera memasuki kelas.
“Sebelum Ibu memulai pelajaran hari ibu ingin mengabsen terlebih dulu” kata ibu Dina wali kelasku.
Bu Dina  pun mengabsen kami satu persatu, hingga sampailah pada namaku
“Hanina Zamzabiela!” panggil bu Dina
Itu nama panjang bela tapi ia sama sekali tak mendengar panggilan bu Dina, karena ia tengah asik memandangi kakak kelasnya yang sedang dihukum membersihkan lapangan karena terlambat masuk sekolah.
“Bel, tuh bu dina manggil!” kata putri teman sebangku bela.
Bela tak menggubris panggilan gurunya, ia benar-benar asik memadangi lelaki itu, lelaki yang bernama Muhammad Ridho,  dia kakak kelasnya, yang semenjak awal masuk SMA telah mencuri hatinya, dan mencuri hati para siswi disekolah ini.
“HANINA ZAMZABIELA!!!!” teriak bu Dina memandang ke arahku.
“iya saya ada” sahut bela kaget
“Sedang apa kamu bela dari tadi ibu panggil ga nyahut-nyahut? Masih pagi sudah melamun saja!” seru bu Dina
“Iya bu maaf” sahut bela menunduk takut di marahi
Dan ketika pandangan bela kembali menuju lapangan, ia tidak melihat ridho, ternyata hukumannya sudah berakhir, ridho sudah di perbolehkan memasuki kelas.
Bel waktu istirahat pun berbunyi, aku pun mengajak putri sahabatku makan di kantin, dan setelah itu kami menghabiskan waktu istirahat di taman sekolah. Meski terik namun terasa silir angin berhembus, kami asik berbincang tentang kisah remaja di sekolah kami.
Lalu, seorang lelaki melintas tepat di samping bela. Spontan bela terperangah, namun ia tak sedikitpun menghiraukannya. Bahkan sampai ia berlalu. 
Ia terlihat tampan, manis dan pintar, wajar jika aku dan seluruh siswi sekolahku sampai terpesona padanya. Yang melintas tadi adalah kak ridho, kakak kelasku.
“Hei, kenapa kamu bel?” putri menepuk pundakku. Tentu saja itu membuatku terkejut.
“Haaa ? oh. Gak papa kok “ Jawabku dengan wajah yang mungkin abstrak.
“Kamu liat kak ridho yah??” tanya putri padaku.
“He he he” Bela hanya menjawab dengan senyum malu.
“Hati-hati yah bel, awas nanti sakit hati lagi. Kamu tau kan dia itu cowo paling populer disekolah kita, banyak yang suka sama dia, termasuk Mita” nasihat putri padaku.
Mita adalah cewe terpopuler disekolah, cantik, pintar,kaya, suaranya bagus lagi, dia suka nyanyi-nyanyi gitu kalau ada acara di sekolah. Idaman para cowo deh. Dia juga ternyata suka sama kak ridho. Walaupun mita gak  pernah mengungkapkan perasaannya, tapi seluruh siswa di sekolah tau kalau mita suka dengannya.
“iya aku tau kok, tenang aja. Aku juga sadar kalau aku gak mungkin bisa bersaing dengan mita. Emang siapa aku sih put? Banyak kekurangannya dari pada kelebihan. Cantik kurang, pintar juga kurang, kurang bergaul pula.. hmmm” keluh bela pada putri.
“aiiihhh... kok jadi sedih gitu sih neng??!!” sambil mencolek pinggul bel.
“Tapi kalau kamu suka yah terus terang ajah bel, bilang sama dia. Toh meraka juga belum jadian kok. Jadi yah masih ada kesempatan buat kamu. SEMANGAT!!” Putri menyemangati.
“kamu punya kelebihan kok.” Kata putri
“Kelebihan berat badan?? hehehe” canda bela.
“Hahaha.. kamu bisa ajah. Kamu gak nyadar yah? Kamu tuh calon penulis hebat bel, tulisanmu itu loh bagus-bagus semua. Tapi sayang ajah kamu kurang percaya diri, tulisan sebagus itu cuma kamu liatin ke aku ajah, sama kaya perasaan kamu, cuma kamu rasain ajah sendiri tanpa ada orang yang boleh tau.” Kata putri
Bela hanya terdiam mendengar celoteh putri, yang mungkin ada benarnya. Aku memang kurang percaya diri, kurang percara diri baik dari segi kegemaranku dalam menulis maupun perasaanku.
“Bela.. Bela..” suara lelaki memanggil bela dan bela tau pasti itu siapa, bela begitu hafal dengan nada suaranya. Dan benar saja yang memanggilanya adalah kak Ridho.
“Bela..” nama kamu kan? Tanya kak Ridho.
Bela hanya tertegun kaget tak menyangka kalau kak ridho mengetahui namanya.
“Kok gak di jawab? Nama kamu bela kan?” tanya kak ridho lagi.
Bela masih terdiam, karena masih heran kak ridho tau dari mana namanya.
“Oh iya kak, nama saya Bela. Ada apa yah kak?” kata bela sambil tersenyum yang menyiratkan bahwa dia sangat senang kak ridho memanggilnya.
“Ini kemarin buku kamu ketinggalan di taman, saya tau nama kamu dari buku itu.” Sambil menyerahkan buku. Memang dibuku itu tertulis lengkap biodata bela.
“Cerpen sama puisi kamu bagus deh, maaf saya baca isinya” puji kak ridho.
“Makasih kak” Pipi bela langsung merah merona seperti tomat mendengar pujian dari lelaki yang selama ini ia kagumi. Pokonya hari itu bela amat sangat senang, selain kak Ridho tau nama bela,  kak ridho juga memuji tulisannya.
Tak terasa waktu terus berjalan, kak Ridho akhirnya lulus dari SMA, ingin rasanya bela menungkapkan isi hatinya yang selama ini tersimpan rapih. Tapi ketika ia mulai berani mengungkapkannya, Mita mendahuluinya. Tapi sebelum bela mendengar dan mengetahui jawaban dari kak ridho, bela sudah pergi dan menangis di pelukan putri.
“Kenapa bel?” tanya Putri
“Kak Ridho.. Mita.. hiks hiks..” bela menjawab dengan terisak isak..
“Iya, kak ridho sama mitha kenapa?” putri penasaran
“tadi pas aku mau bilang sejujurnya sama kak ridho kalau aku suka ma dia, eehh Mita dah bilang cinta duluan” jelas bela sambil menghela napas panjang.
“oohh.. sabar ajah bel, mungkin kak ridho bukan jodoh kamu.. trus kak ridhonya jawab apa ma mita?”
“gak tau, tadi aku langsung kabur ke sini” kembali menangis.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun akhirnya bela dan putri lulus juga dari SMA, sahabat karib ini pun berpisah karena mereka mengambil Universitas yang berbeda. Tetapi pisah kampus bukan berarti persahabatan mereka putus sampai di situ aja, meraka masih saling telepon-teleponan. Dan sesekali juga mereka masih bertemu.
Ternyata universitas yg bela pilih adalah universitas yang dipilih juga oleh kak ridho 2 tahun lalu, mereka akhirnya saling bertemu dalam suatu acara kampus. Dan bela menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut.
“Hanina Zamzabiela” teriak seorang lelaki memanggil nama bela.. Bela sangat mengenal suara itu, suara seseorang yang dia kagumi waktu SMA dulu.
Benar saja, dia kak Ridho. Seseorang yang pernah mencuri hatinya hingga sampai saat ini.
“Hai kak, pa kabar?” bela menyapa masih malu-malu seperti pertama kali kak ridho memanggilnya saat kak ridho mengembalikan buku bela yang tertinggal di taman.
“Hai juga, alhamdulillah kabar baik. Kamu?” kak Ridho balik tanya
“Alhamdulillah baik juga kak” kata bela
“Acara kamu bagus deh tadi” puji kak ridho
“makasih kak” bela sambil tersenyum
“Oy kak, mita kemana?” tanya bela kepada kak ridho
“gak tau tuh bel, kok tanya ma saya” kak ridho heran
“Bukannya kaka dulu jadian sama mita. Waktu itu aku mendengar Mita mengatakan rasa cintanya pada kaka.” Kata bela yang tak kalah herannya.
“Hmmm.. kamu tidak mendengarkan sampai selesai sih!! Saya dulu tidak menerima mita karena saya lebih suka sama kamu” kata-kata kak ridho membuat bela terngangah.
“Kenapa kaka ga nerima mita, dia kan sempurna ka, idaman para lelaki lah. Ga seperti aku yang banyak kekurangannya” kata Bela merendah.
“Ketika saya mencintai kamu, saya juga telah mencintai kekuranganmu” jawab kak ridho.
aku mencintaimu seperti matahari yang tak pernah ingkar bersinar di pagi hari”
 “aku mencintaimu seperti bintang yang selalu setia menemani bulan bersinar di malam hari”
Akhirnya mereka pun saling mengungkapkan perasaan mereka, mereka ternyata saling mencintai, kurang percaya diri membuat meraka berpisah tapi akhirnya mereka bersatu kembali, karena rasa cinta itu pula.

Selasa, 27 Desember 2011

DUA TELINGA SAYA, RASANYA CUKUP...

Semuanya kini tak terasa aneh lagi, memang itu semua terjadi dalam dunia sadar saya, bukan halusinasi ataupun yang lainnya. Istri, Ibu dan juga pembantu saya Mbok Rah pun sudah memakluminya. Tapi mungkin kalian belum sepenuhnya percaya bahwa si Koky ikan mas yang gemuk buntek dapat menemani hari-hari saya dengan obrolan-obrolan yang menyegarkan, dengan di selingi canda tawa, kadang-kadang si Koky juga membuat saya kesal dengan banyolannya.
Suatu hari, dan untuk kesekian kalinya saya mendengar Koky menangis, entah apa yang ditangisi oleh ikan mas itu. Apakah kekurangan porsi makan , ataukah ingin menempati akuarium yang lebih besar dari itu yang hanya berkisar 50 cm kubik. Entahlah...
“krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. glup.... sstttt.. nyysssssssstttt...bllzzzzzzzz...glup gluuupp..gluupp.. stttzzzzzztttttt... krkkkkk..nyyssttttt..glup.glup..sttt..szzttttt...”
“Kenapa kamu menangis teman kecilku? Apa saya kurang memberi kamu makan ataukah kamu sudah tidak betah lagi tinggal di akuriummu? Saya sudah tidak tahan lagi mendengar suaramu. Kalau kamu masih menangis seperti itu, akan saya suruh Inez mengeluarkanmu dari akuarium itu dan memindahkan kamu kedalam wajannya!”
“krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. glup.... sstttt.. nyysssssssstttt...bllzzzzzzzz...glup gluuupp..gluupp.. stttzzzzzztttttt... krkkkkk..nyyssttttt..glup.glup..sttt..szzttttt... krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup..”

“Coba saja kalau kamu berani memindahkan saya kewajan istrimu! Kamu pasti akan merasa kesepian karena tak ada lagi teman bicara, tak ada lagi teman untuk berdiskusi, tak ada lagi teman yang bisa mendengarkan semua keluh kesahmu yang ga mungkin kamu ceritakan kepada orang banyak. Jadi jangan emosi seperti itu .”
“Lalu apa yang kamu tangisi? Hayolah katakan saja pada saya!”. Saya merasa heran karena si Koky tak berhenti juga nangisnya.
“krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. glup.... sstttt.. nyysssssssstttt...bllzzzzzzzz...glup gluuupp..gluupp.. stttzzzzzztttttt... krkkkkk..nyyssttttt..glup.glup..sttt..szzttttt... krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. glup.... sstttt.. nyysssssssstttt...bllzzzzzzzz...glup gluuupp..gluupp.. stttzzzzzztttttt...”
“Saya merasa kasian melihat kamu, walaupun Istrimu sudah memaklumi tingkah lakumu selama ini tapi dia masih tetap saja heran melihatmu berbicara dengan semua mahluk di sekelilingmu. Dan kini tetangga kamu pun mulai curiga. Mereka sering melihat kamu mengajak bicara rumput-rumput dan pohon-pohon yang ada di halaman rumah kamu. Dan mungkin mereka semua akan beranggapan bahwa kamu itu sudah gila. Saya menangis karena semua itu, saya kasian melihat kamu sahabatku”.
Saya hanya bisa terdiam dan merasa terharu mendengar si Koky menangis dan bicara seperti itu, ternyata dia menangis bukan untuk dirinya sendiri melainkan dia merasa kasian melihatku.

PERCAKAPAN saya dengan Koky belum cukup sampai situ saja, masih banyak yang kita bicarakan tiap harinya, saya tidak sedikitpun memperdulikan kata-kata tetangga-tetanggaku, terserah apa yang ingin meraka katakan tentang saya, toh ini kehidupan saya, tidak sedikitpun saya merugikan mereka, tapi mengapa mereka sangat usil ikut campur urusan saya.
“Mas, si Koky cerita apa lagi? Serius sekali kayanya pembicaraan kalian, sampai-sampai saya yang dari tadi disini dicuekin saja.” goda istri saya.
“krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. glup.... sstttt.. nyysssssssstttt...bllzzzzzzzz...glup gluuupp..gluupp.. stttzzzzzztttttt...”
“Istrimu makin hari makin cantik saja, matanya itu lho, makin hari makin berbinar.”
“hahahaha, istri siapa dulu.!”
“Sttttt ketawa jangan besar-besar mas, nanti tetangga pada bangun lagi! Memangnya Koky bilang apa mas, sampai mas ketawa seperti itu?” Istri saya penasaran juga.
“Dia bilang kamu cantik”
Bibir Inez mendarat lagi di pipi saya, dia tersipu malu, dia benar-benar sangat senang dipuji.
Kami menghabiskan hari itu dengan canda tawa. Tak peduli apa kata mereka, yang mengatakan saya gila, mengatakan bahwa saya mendapat jimatnya Nabi Sulaiman atau apalah.
Dalam diam lagi-lagi saya memanjatkan doa pada Tuhan, “Dua telinga saya, rasanya cukup, Tuhanku...”

MELANJUTKAN CERPEN "DUA TELINGA SAYA, RASANYA CUKUP..." KARYA YANUSA NUGROHO.

Minggu, 25 Desember 2011

MALAPETAKA DANGDUT


Nyanyi yuk...
(Para penonton, bapak-bapak ibu-ibu semua yang ada disini,ada yang bilang dangdut tak goyang bagai sayur kurang garam kurang enak kurang sedap, maka itu aku goyang agar semuanya senang)
Tariiiikkkk mang...
Ajakan biduan sambil bergoyang..


Lanjut neng...
Asseeekkkk...
Teriak penonton ikut ambil suara..

(bagi yang kurang berkenan melihat aku bergoyang jangan maraaahh, maafkanlaaahh)

Irama dangdut terus di lantunkan
Penonton banyak berdatangan
Goyangan biduan semakin kencang
Semakin malam semakin menantang
Hingga  malapetaka datang
Memburu nafsu............