"Bismillahirrohmanirrohim"

Minggu, 08 Januari 2012

Membaca Efektif dengan Formula 5 S


1. Pandai SEDOT materi bacaan
Mari sama-sama kita dokrak mitos membaca selama ini! Membaca tidak harus pelan-pelan, justru dengan "menyedot" materi bacaan atau buku, kita sebenarnya telah melakukan survei bacaan dan ilmunya tetap "masuk" kedalam otak.

2. SARING mana yang penting
Menyaring isi buku membuat anda melakukan survei ulang bacaan dengan beban yang lebih ringan. karena yang dicarinya hanya kata kuncinya saja.

3. SELEKSI mana yang harus diingat
Pintar menyeleksi atau menggunting materi bacaan akan mendorong perkembangan sudut pandang anda dan memudahkannya untuk menyeleksi bacaan pendukung.

4. SERAP sampai melekat di otak
Mengembangkan pendekatan bertanya akan membuat anda lebih cepat paham, dan ingat.

5. SARIKAN  supaya tidak lupa
Jadikan kata kunci dan pemetaan sebagai jangkar ke otk. supaya mudah memanggil kembali "data" yang sudah dipelajari saat diinginkan.



INGAT:
Formula 5 S memberikan pola belajar bagimu . Dan, belajar artinya membuat formula ini jadi milikmu!!!!
"Diktat perkuliahan"

Sabtu, 07 Januari 2012

Cinta Bela


KRIIIIIINGGG...!! KRIIINGGG..!! KRIIINGGGG..!!!
Tangan kiri Bela mencari-cari handphone-nya di antara tumpukan bantal yang ada di sampingnya, ia mematikan alarm yang sudah di aturnya semalam, tanpa melihat angka yang tertera didalam layar.
“Bel, belaa, bellaaa...bangun..” teriak mama dari luar kamar sambil mengetuk- ngetuk pintu kamar bela yang semakin lama semakin keras.
“iya mah, bela dah bangun kok” sahut bela sambil mengucek-ngucek matanya.
Ketika mata kecil bela terbuka lebar, matanya langsung menuju kearah jam dinding yang berada di depannya, ia tergaget karena jam dinding sudah menunjukkan jam setengah 7 pagi.
“Ya ampuuunnn.. telat lg” teriak bela sambil berlari menuju kamar mandi.
Selasai mandi dan berpakaian rapih putih abu-abu, ia bergegas kedapur untuk menikmati sarapan yang sudah di siapkan mama.
“Jangan buru-buru makannya!” saran mama
“Mama sih ga bangunin aku dari tadi, jadinya aku telat nih, jadi ga bisa santai makannya” sahut bela pada mamanya.
“Lho lho lho, kok jadi mama yang disalahin?? Perasaan mama dah bangunin kamu deh, handphone kamu juga sudah bunyi dari tadi, sampe-sampe mama pusing dengernya.” Jelas mama.
“he he he.. masa??” bela sambil senyum-senyum malu.
“Makanya nak, jangan suka tidur tengah malam, jangan suka bergadang, kalau mau menulis yah jangan sampe lupa waktu tidur..” nasihat mama.
“iya mah iya, he he he.. ya udah deh aku berangkat dulu yah mah, telat banget nih, assalamu’alaikum” sambil mencium tangan dan langsung bergegas pergi.
Sesampainya di depan gerbang sekolah bela bergegas lari sekencang-kencangnya karena pak satpam yang menjaga sekolah sudah bersiap siaga menutup pintu gerbang. Ia pun segera memasuki kelas.
“Sebelum Ibu memulai pelajaran hari ibu ingin mengabsen terlebih dulu” kata ibu Dina wali kelasku.
Bu Dina  pun mengabsen kami satu persatu, hingga sampailah pada namaku
“Hanina Zamzabiela!” panggil bu Dina
Itu nama panjang bela tapi ia sama sekali tak mendengar panggilan bu Dina, karena ia tengah asik memandangi kakak kelasnya yang sedang dihukum membersihkan lapangan karena terlambat masuk sekolah.
“Bel, tuh bu dina manggil!” kata putri teman sebangku bela.
Bela tak menggubris panggilan gurunya, ia benar-benar asik memadangi lelaki itu, lelaki yang bernama Muhammad Ridho,  dia kakak kelasnya, yang semenjak awal masuk SMA telah mencuri hatinya, dan mencuri hati para siswi disekolah ini.
“HANINA ZAMZABIELA!!!!” teriak bu Dina memandang ke arahku.
“iya saya ada” sahut bela kaget
“Sedang apa kamu bela dari tadi ibu panggil ga nyahut-nyahut? Masih pagi sudah melamun saja!” seru bu Dina
“Iya bu maaf” sahut bela menunduk takut di marahi
Dan ketika pandangan bela kembali menuju lapangan, ia tidak melihat ridho, ternyata hukumannya sudah berakhir, ridho sudah di perbolehkan memasuki kelas.
Bel waktu istirahat pun berbunyi, aku pun mengajak putri sahabatku makan di kantin, dan setelah itu kami menghabiskan waktu istirahat di taman sekolah. Meski terik namun terasa silir angin berhembus, kami asik berbincang tentang kisah remaja di sekolah kami.
Lalu, seorang lelaki melintas tepat di samping bela. Spontan bela terperangah, namun ia tak sedikitpun menghiraukannya. Bahkan sampai ia berlalu. 
Ia terlihat tampan, manis dan pintar, wajar jika aku dan seluruh siswi sekolahku sampai terpesona padanya. Yang melintas tadi adalah kak ridho, kakak kelasku.
“Hei, kenapa kamu bel?” putri menepuk pundakku. Tentu saja itu membuatku terkejut.
“Haaa ? oh. Gak papa kok “ Jawabku dengan wajah yang mungkin abstrak.
“Kamu liat kak ridho yah??” tanya putri padaku.
“He he he” Bela hanya menjawab dengan senyum malu.
“Hati-hati yah bel, awas nanti sakit hati lagi. Kamu tau kan dia itu cowo paling populer disekolah kita, banyak yang suka sama dia, termasuk Mita” nasihat putri padaku.
Mita adalah cewe terpopuler disekolah, cantik, pintar,kaya, suaranya bagus lagi, dia suka nyanyi-nyanyi gitu kalau ada acara di sekolah. Idaman para cowo deh. Dia juga ternyata suka sama kak ridho. Walaupun mita gak  pernah mengungkapkan perasaannya, tapi seluruh siswa di sekolah tau kalau mita suka dengannya.
“iya aku tau kok, tenang aja. Aku juga sadar kalau aku gak mungkin bisa bersaing dengan mita. Emang siapa aku sih put? Banyak kekurangannya dari pada kelebihan. Cantik kurang, pintar juga kurang, kurang bergaul pula.. hmmm” keluh bela pada putri.
“aiiihhh... kok jadi sedih gitu sih neng??!!” sambil mencolek pinggul bel.
“Tapi kalau kamu suka yah terus terang ajah bel, bilang sama dia. Toh meraka juga belum jadian kok. Jadi yah masih ada kesempatan buat kamu. SEMANGAT!!” Putri menyemangati.
“kamu punya kelebihan kok.” Kata putri
“Kelebihan berat badan?? hehehe” canda bela.
“Hahaha.. kamu bisa ajah. Kamu gak nyadar yah? Kamu tuh calon penulis hebat bel, tulisanmu itu loh bagus-bagus semua. Tapi sayang ajah kamu kurang percaya diri, tulisan sebagus itu cuma kamu liatin ke aku ajah, sama kaya perasaan kamu, cuma kamu rasain ajah sendiri tanpa ada orang yang boleh tau.” Kata putri
Bela hanya terdiam mendengar celoteh putri, yang mungkin ada benarnya. Aku memang kurang percaya diri, kurang percara diri baik dari segi kegemaranku dalam menulis maupun perasaanku.
“Bela.. Bela..” suara lelaki memanggil bela dan bela tau pasti itu siapa, bela begitu hafal dengan nada suaranya. Dan benar saja yang memanggilanya adalah kak Ridho.
“Bela..” nama kamu kan? Tanya kak Ridho.
Bela hanya tertegun kaget tak menyangka kalau kak ridho mengetahui namanya.
“Kok gak di jawab? Nama kamu bela kan?” tanya kak ridho lagi.
Bela masih terdiam, karena masih heran kak ridho tau dari mana namanya.
“Oh iya kak, nama saya Bela. Ada apa yah kak?” kata bela sambil tersenyum yang menyiratkan bahwa dia sangat senang kak ridho memanggilnya.
“Ini kemarin buku kamu ketinggalan di taman, saya tau nama kamu dari buku itu.” Sambil menyerahkan buku. Memang dibuku itu tertulis lengkap biodata bela.
“Cerpen sama puisi kamu bagus deh, maaf saya baca isinya” puji kak ridho.
“Makasih kak” Pipi bela langsung merah merona seperti tomat mendengar pujian dari lelaki yang selama ini ia kagumi. Pokonya hari itu bela amat sangat senang, selain kak Ridho tau nama bela,  kak ridho juga memuji tulisannya.
Tak terasa waktu terus berjalan, kak Ridho akhirnya lulus dari SMA, ingin rasanya bela menungkapkan isi hatinya yang selama ini tersimpan rapih. Tapi ketika ia mulai berani mengungkapkannya, Mita mendahuluinya. Tapi sebelum bela mendengar dan mengetahui jawaban dari kak ridho, bela sudah pergi dan menangis di pelukan putri.
“Kenapa bel?” tanya Putri
“Kak Ridho.. Mita.. hiks hiks..” bela menjawab dengan terisak isak..
“Iya, kak ridho sama mitha kenapa?” putri penasaran
“tadi pas aku mau bilang sejujurnya sama kak ridho kalau aku suka ma dia, eehh Mita dah bilang cinta duluan” jelas bela sambil menghela napas panjang.
“oohh.. sabar ajah bel, mungkin kak ridho bukan jodoh kamu.. trus kak ridhonya jawab apa ma mita?”
“gak tau, tadi aku langsung kabur ke sini” kembali menangis.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun akhirnya bela dan putri lulus juga dari SMA, sahabat karib ini pun berpisah karena mereka mengambil Universitas yang berbeda. Tetapi pisah kampus bukan berarti persahabatan mereka putus sampai di situ aja, meraka masih saling telepon-teleponan. Dan sesekali juga mereka masih bertemu.
Ternyata universitas yg bela pilih adalah universitas yang dipilih juga oleh kak ridho 2 tahun lalu, mereka akhirnya saling bertemu dalam suatu acara kampus. Dan bela menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut.
“Hanina Zamzabiela” teriak seorang lelaki memanggil nama bela.. Bela sangat mengenal suara itu, suara seseorang yang dia kagumi waktu SMA dulu.
Benar saja, dia kak Ridho. Seseorang yang pernah mencuri hatinya hingga sampai saat ini.
“Hai kak, pa kabar?” bela menyapa masih malu-malu seperti pertama kali kak ridho memanggilnya saat kak ridho mengembalikan buku bela yang tertinggal di taman.
“Hai juga, alhamdulillah kabar baik. Kamu?” kak Ridho balik tanya
“Alhamdulillah baik juga kak” kata bela
“Acara kamu bagus deh tadi” puji kak ridho
“makasih kak” bela sambil tersenyum
“Oy kak, mita kemana?” tanya bela kepada kak ridho
“gak tau tuh bel, kok tanya ma saya” kak ridho heran
“Bukannya kaka dulu jadian sama mita. Waktu itu aku mendengar Mita mengatakan rasa cintanya pada kaka.” Kata bela yang tak kalah herannya.
“Hmmm.. kamu tidak mendengarkan sampai selesai sih!! Saya dulu tidak menerima mita karena saya lebih suka sama kamu” kata-kata kak ridho membuat bela terngangah.
“Kenapa kaka ga nerima mita, dia kan sempurna ka, idaman para lelaki lah. Ga seperti aku yang banyak kekurangannya” kata Bela merendah.
“Ketika saya mencintai kamu, saya juga telah mencintai kekuranganmu” jawab kak ridho.
aku mencintaimu seperti matahari yang tak pernah ingkar bersinar di pagi hari”
 “aku mencintaimu seperti bintang yang selalu setia menemani bulan bersinar di malam hari”
Akhirnya mereka pun saling mengungkapkan perasaan mereka, mereka ternyata saling mencintai, kurang percaya diri membuat meraka berpisah tapi akhirnya mereka bersatu kembali, karena rasa cinta itu pula.