"Bismillahirrohmanirrohim"

Selasa, 27 Desember 2011

DUA TELINGA SAYA, RASANYA CUKUP...

Semuanya kini tak terasa aneh lagi, memang itu semua terjadi dalam dunia sadar saya, bukan halusinasi ataupun yang lainnya. Istri, Ibu dan juga pembantu saya Mbok Rah pun sudah memakluminya. Tapi mungkin kalian belum sepenuhnya percaya bahwa si Koky ikan mas yang gemuk buntek dapat menemani hari-hari saya dengan obrolan-obrolan yang menyegarkan, dengan di selingi canda tawa, kadang-kadang si Koky juga membuat saya kesal dengan banyolannya.
Suatu hari, dan untuk kesekian kalinya saya mendengar Koky menangis, entah apa yang ditangisi oleh ikan mas itu. Apakah kekurangan porsi makan , ataukah ingin menempati akuarium yang lebih besar dari itu yang hanya berkisar 50 cm kubik. Entahlah...
“krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. glup.... sstttt.. nyysssssssstttt...bllzzzzzzzz...glup gluuupp..gluupp.. stttzzzzzztttttt... krkkkkk..nyyssttttt..glup.glup..sttt..szzttttt...”
“Kenapa kamu menangis teman kecilku? Apa saya kurang memberi kamu makan ataukah kamu sudah tidak betah lagi tinggal di akuriummu? Saya sudah tidak tahan lagi mendengar suaramu. Kalau kamu masih menangis seperti itu, akan saya suruh Inez mengeluarkanmu dari akuarium itu dan memindahkan kamu kedalam wajannya!”
“krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. glup.... sstttt.. nyysssssssstttt...bllzzzzzzzz...glup gluuupp..gluupp.. stttzzzzzztttttt... krkkkkk..nyyssttttt..glup.glup..sttt..szzttttt... krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup..”

“Coba saja kalau kamu berani memindahkan saya kewajan istrimu! Kamu pasti akan merasa kesepian karena tak ada lagi teman bicara, tak ada lagi teman untuk berdiskusi, tak ada lagi teman yang bisa mendengarkan semua keluh kesahmu yang ga mungkin kamu ceritakan kepada orang banyak. Jadi jangan emosi seperti itu .”
“Lalu apa yang kamu tangisi? Hayolah katakan saja pada saya!”. Saya merasa heran karena si Koky tak berhenti juga nangisnya.
“krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. glup.... sstttt.. nyysssssssstttt...bllzzzzzzzz...glup gluuupp..gluupp.. stttzzzzzztttttt... krkkkkk..nyyssttttt..glup.glup..sttt..szzttttt... krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. glup.... sstttt.. nyysssssssstttt...bllzzzzzzzz...glup gluuupp..gluupp.. stttzzzzzztttttt...”
“Saya merasa kasian melihat kamu, walaupun Istrimu sudah memaklumi tingkah lakumu selama ini tapi dia masih tetap saja heran melihatmu berbicara dengan semua mahluk di sekelilingmu. Dan kini tetangga kamu pun mulai curiga. Mereka sering melihat kamu mengajak bicara rumput-rumput dan pohon-pohon yang ada di halaman rumah kamu. Dan mungkin mereka semua akan beranggapan bahwa kamu itu sudah gila. Saya menangis karena semua itu, saya kasian melihat kamu sahabatku”.
Saya hanya bisa terdiam dan merasa terharu mendengar si Koky menangis dan bicara seperti itu, ternyata dia menangis bukan untuk dirinya sendiri melainkan dia merasa kasian melihatku.

PERCAKAPAN saya dengan Koky belum cukup sampai situ saja, masih banyak yang kita bicarakan tiap harinya, saya tidak sedikitpun memperdulikan kata-kata tetangga-tetanggaku, terserah apa yang ingin meraka katakan tentang saya, toh ini kehidupan saya, tidak sedikitpun saya merugikan mereka, tapi mengapa mereka sangat usil ikut campur urusan saya.
“Mas, si Koky cerita apa lagi? Serius sekali kayanya pembicaraan kalian, sampai-sampai saya yang dari tadi disini dicuekin saja.” goda istri saya.
“krrkkkkk.. nystttt..nysttttt.. blzzzzzzzz.. glup.. glup.. glup..stttthhhhhhhhhhhttttt..glup.. glup.. glup.... sstttt.. nyysssssssstttt...bllzzzzzzzz...glup gluuupp..gluupp.. stttzzzzzztttttt...”
“Istrimu makin hari makin cantik saja, matanya itu lho, makin hari makin berbinar.”
“hahahaha, istri siapa dulu.!”
“Sttttt ketawa jangan besar-besar mas, nanti tetangga pada bangun lagi! Memangnya Koky bilang apa mas, sampai mas ketawa seperti itu?” Istri saya penasaran juga.
“Dia bilang kamu cantik”
Bibir Inez mendarat lagi di pipi saya, dia tersipu malu, dia benar-benar sangat senang dipuji.
Kami menghabiskan hari itu dengan canda tawa. Tak peduli apa kata mereka, yang mengatakan saya gila, mengatakan bahwa saya mendapat jimatnya Nabi Sulaiman atau apalah.
Dalam diam lagi-lagi saya memanjatkan doa pada Tuhan, “Dua telinga saya, rasanya cukup, Tuhanku...”

MELANJUTKAN CERPEN "DUA TELINGA SAYA, RASANYA CUKUP..." KARYA YANUSA NUGROHO.

Minggu, 25 Desember 2011

MALAPETAKA DANGDUT


Nyanyi yuk...
(Para penonton, bapak-bapak ibu-ibu semua yang ada disini,ada yang bilang dangdut tak goyang bagai sayur kurang garam kurang enak kurang sedap, maka itu aku goyang agar semuanya senang)
Tariiiikkkk mang...
Ajakan biduan sambil bergoyang..


Lanjut neng...
Asseeekkkk...
Teriak penonton ikut ambil suara..

(bagi yang kurang berkenan melihat aku bergoyang jangan maraaahh, maafkanlaaahh)

Irama dangdut terus di lantunkan
Penonton banyak berdatangan
Goyangan biduan semakin kencang
Semakin malam semakin menantang
Hingga  malapetaka datang
Memburu nafsu............

PUISIKU

BENALU



Aku ingin terlepas

Aku ingin terbebas
Sungguh..
Hadirmu seperti benalu
Disetiap hadirku, dan langkah hidupku

Tapi..
Ketika ku terlepas
Ketika ku terbebas
Dan ketika kau terhempas
Aku ingin kembali terjerat

Sabtu, 24 Desember 2011

LAYANG-LAYANG BUATAN BAPAK

Namaku fatimah, Aku kini berumur 9 tahun. Sekolah Dasar, Sekolah Madrasah, dan bermain bersama teman-teman adalah kegiatan rutin aku setiap harinya. Kecuali hari minggu, hari libur sekolah yang aku manfaatkan dengan berkumpul bersama keluarga.
Tidak tahu kenapa hari ini teman-temanku yang bernama Ela, Lia, dan Aza tidak masuk sekolah madrasah,  kebetulan mereka bersaudara jadi satu rumah. Aku berniat nanti sepulang dari sekolah madrasah aku ingin mengunjungi mereka.
“Elaaaa, Liaaaa, Azaaaaa.. maiin yuuukkk” aku berteriak memanggil nama mereka dari luar rumah.
Tak satupun dari mereka menyahut panggilanku, aku semakin penasaran apa yang sedang meraka lakukan didalam rumah, sehingga mereka tidak menyahut panggilanku, dan juga tidak bersekolah hari ini. Aku bergegas masuk kedalam rumah mereka yang kebetulan pintu rumahnya tidak ditutup. Ketika aku sampai di ruang TV aku melihat mereka menggunting-gunting sesuatu dan ternyata mereka sedang asyik membuat layang-layang.
“iihhh pantas saja kalian tidak menyahut, kalian sedang asyik toohh membuat layang-layang di sini” seruku pada Ela, Lia, dan Aza yang membuat mereka terkaget.
Mereka langsung berpaling ke arahku sambil tertawa malu
“hehehehe” “iya maaf, kita lagi serius nih bikin layang-layang” kata Ela padaku.
“Walaupun kalian ingin bermain layang-layang  jangan sampai ga sekolah dong, nanti ketinggalan pelajaran loh!!” kata aku pada mereka  yang masih asyik membuat layang-layang yang sudah hampir selesai.
“Iya deh maaf maaf, ga lagi-lagi deh, hehehe.” Kata mereka berbarengan.
Layang-layang mereka pun akhirnya selesai juga, dan sudah bisa di terbangkan. Mereka  bermain layang-layang di atas gunung dedek. Aku hanya bisa melihat mereka bermain dan berusaha menaikkan layang-layangnya karena aku tidak punya layang-layang. Mereka hanya membuat tiga buah, dan itu hanya untuk mereka sendiri. Aku sebenarnya ingin bermain layang-layang tapi apa boleh buat, aku tidak bisa membuatnya.
Hari pun sudah mulai gelap. Mereka pun sudah menurunkan layang-layangnya, dan kami pulang kerumah masing-masing. Setelah sampai di rumah, aku langsung bertemu ibuku, dan merengek-rengek minta dibuatkan layang-layang.
“Ibuuu.. buatkan aku layang-layang, aku ingin main layang-layang sama Ela, Lia, dan Aza.” rengekanku pada ibuku.
“coba minta buatkan sama bapakmu, ibu tidak bisa nak” kata ibu padaku.
“baiklah” kataku. Dan aku langsung bergegas menemui bapak.
“Paaakkk.. Bapak buatkan aku layang-layang, aku ingin main sama Ela, Lia, dan Aza. Mereka tadi buat layang-layang bagus deh pak, terbangnya juga bagus, tadi aku ingin main, tapi mereka cuma buat tiga, jadinya aku hanya bisa melihat mereka bermain saja.” Rengekan aku pada bapak.
“ya udah nanti besok saja yah bapak buatkan, karena sekarang bapak capek sekali tadi habis kerja seharian.” Kata bapak sambil tersenyum melihatku.
“Asssiiiikkkkk.. besok aku punya layang-layang” teriakku sambil loncat-loncat kegirangan mendengar bapak ingin membuatkan aku layang-layang.
Bapak dan Ibu tertawa melihatku loncat-loncat kegirangan.
“Tapi inget yah nak, nanti kalau sudah bapak buatkan layang-layang kamu jangan malas sekolah, dan jangan lupa belajar!!” nasihat bapak untukku.
“Oke pak, siiiiippp deehh.. hehe“
Aku berlari menuju kamar, dan beristirahat karena ingin rasanya malam ini berlalu dengan cepat. Keesokan harinya bapakku benar-benar menepati janjinya yang semalam, ia membuatkan layang-layang untukku, dan akhirnya aku bisa bermain layang-layang..
“Terimakasih bapak...”

Ini ceritaku mana ceritamu???

Jumat, 23 Desember 2011

PENANTIAN CINTA



Izinkan ku meluapkan rasa
Sungguh ku tak dapat menahan gejolak cinta
Yang selama ini terbungkus dalam dada
Bukan niatku tuk meminta belas kasihan
Tapi Aku ingin Dirimu...
Masihkah hatimu keras seperti batu


Walau dirimu tak berpaling
Walau dirimu tak membalas rasa
Tapi....
Aku akan terus menunggu
Sampai akhirnya hatimu tertuju padaku